Atasi Masalah Kependudukan, Dirpenduk BKKBN Dorong Peran Aktif FMPK Provinsi Lampung

Perwakilan BKKBN Provinsi Lampung bersama Forum Mahasiswa Peduli Kependudukan (FMPK) Provinsi Lampung menggelar Diskusi Asik Pendidikan Kependudukan (DAKDIKDUK) melalui Seminar Psikologi Remaja dan Public Speaking dengan tema “Menjadi Generasi Unggul dan Bebas Stunting di era digital”. secara hybrid dari Kantor Perwakilan BKKBN Provinsi Lampung, Sabtu, 12 November 2022

Memberikan sambutan secara daring, Direktur Kerjasama Pendidikan Kependudukan Pendidikan, Dr. Edi Setiawan, S.Si., M.Sc., MSE. menjelaskan bahwa pendidikan kependudukan adalah upaya terencana dan sistematis untuk membantu masyarakat agar memiliki pengetahuan, pemahaman, dan kesadaran tentang kondisi kependudukan serta keterkaitan timbal balik antara perkembangan kependudukan.

“singkatnya pendidikan kependudukan adalah proses mempelajari dan memperluas ilmu pengetahuan tentang masalah kelompok masyarakat atau penduduk dan dampaknya terhadap mutu kehidupan”, ungkapnya.

Lebih lanjut, Edi berpesan bahwa remaja, yang nantinya akan menjadi orang tua harus meningkatkan pemahaman pendidikan kependudukan karena menurutnya, generasi muda yang berkualitas merupakan aset pembangunan berwawasan kependudukan dan diharapkan dapat menghindarkan negara dari kegagalan bonus demografi yakni kondisi dimana negara tidak dapat mengendalikan laju pertumbuhan penduduknya.

“Saya berharap mahasiswa, melalui Forum Mahasiswa Peduli Kependudukan (FMPK) Provinsi Lampung dapat berperan aktif dalam menyebarluaskan pendidikan berwawasan kependudukan di kampusnya masing masing supaya terwujud generasi muda berkualitas peduli kependudukan dimasa mendatang”, katanya.

Sementara itu Plt. Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Lampung, Ni Gusti Putu Meiridha, S.E., M.M. diwakili oleh Koordinator Bidang DALDUK Sri Rejeki WH., M.IP. menyampaikan bahwa masa remaja merupakan masa dimana seseorang mulai tumbuh dari masa kanak-kanak menuju masa penemuan jati diri, dimana pada saat-saat seperti itulah biasanya para remaja akan bertingkah sembarangan tanpa memikirkan akibat apa yang akan terjadi dari perbuatannya tersebut. apalagi di era globalisasi yang penuh dengan keluar masuknya budaya luar dengan cepat dan bebas. Dilansir dari berbagai sumber, terdapat fakta mengenai aktifitas seks bebas remaja indonesia yang dilakukan sejak usia 16 tahun. Dari empat kota yang disurvei langsung oleh para tim peneliti, ada 44% dari para wanita yang mengakui jika mereka sudah tidak perawan karena pernah mengalakukan seks bebas (berhubungan intim) dan yang parahnya lagi 16% dari responden mengakui jika ia melakukannya di kisaran usia 13 tahun sampai 15 tahun. Menurut BNN (Badan Narkotika Nasional, 2020) Sekitar 27,32 persen pengguna narkoba di Indonesia berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa.

Kemudian Sri menambahkan, untuk menindaklanjuti permasalahan tersebut, mahasiswa khususnya FMPK diharapka dapat menyebarluasan isu-isu kependudukan dengan lebih efektif dan masif sehingga berdampak pada terjadinya perubahan prilaku untuk hidup di kalangan mahasiswa untuk menciptakan SDM yang unggul dan mewujudkan Generasi Emas 2045 yaitu generasi yang memiliki kecerdasan yang komprehensif (produktif dan inovatif), damai dalam interaksi sosialnya dan berkarakter kuat.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan diskusi interaktif dari narasumber berpengalaman di bidangnya antara lain dari Himpunan Psikologi Indonesia Lampung (HIMPSI) Ajeng Mustika Sari, M.Psi, dengan materi “Remaja, Ehh, Udah Dewasa Belum? dan Praktisi Public Speaking Lampung M. Zaini, S.TP. dengan materi “Belajar Berbicara, Enak Didengar dan Mudah Dipahami.